Rabu, 22 Maret 2017

Puisi-puisi Elso 0.1 : Andai Saja Aku Kaya


ANDAI SAJA AKU KAYA
Andai saja aku kaya
Aku tak perlu pusing biaya
Langkahku tak mungkin merana
Oleh akibat nestapa raya

O, Aku bingung
Bukankah tugasku hanya belajar?
Kembangkan akal, Skill,dan nalar
Tapi kini aku diburu lapar menjalar

Andai aku kaya
Kau tak perlu pusing dapat cahaya.
2017


AKU dan ALAM
 Menghirup aroma kopi, pandangi alam
sruput pelan kopi, amati keadaan

 alam balik memandang bahkan melotot
Aku yang terkagum mendadak merinding
Kakiku tergores batang serabut. Jatuh
Tanganku terkoyak akar.
Aku tarik nafas dalam
coba baca pikiran alam
Ia tak lagi mau memandangku
Berpaling tak lagi jadi pelindungku
Aku meracau tak sadar-nanar
Keadaankah yang buat alam begini?
Kupikir keadaan biasa saja
Tapi alam seperti ingin kasih sesuatu
Aku saja yang tak ngerti. Bodoh.
Tak bisa baca alam
Kerna gagal amati keadaan
2017, Yogyakarta


Di tengah Aksi
Aku hadir ditengah kerumunan
Bingung, bego dimana kawan dimana lawan

Kerumunan tak sadar apa yg diperjuangkan
Mengais celah dengan sulut kegaduhan.
Dia bilang padaku, mengapa ikut kerumunan? Aku jawab ; sukar merangkai alasan.

Selesai berkerumun, kerumunan malah asyik selfie berpasang-pasangan
Apa yg dilihat orang melihat kerumunan teriak keras lalu aksi meratap nanar

Ah
2016


Curhatku

Bu

Dahulu ibu mengajariku tuk bisa maafkan orang bersalah.
Sekalipun dendam diri merah.
Ibu tetap putihkan dengan senyum merekah.
Dahulu ibu beri tau aku kisah nabi dan rasul yang tak pernah mencaci.
Sekalipun mereka diteror dan di benci

Aku ingat betul ketika ibu mengingatkanku satu hal.
Pintar-pintar jaga diri nak, santuni setiap orang apapun latar belakangnya, seberapapun mereka mencaci-mu.

Benarkah itu bu?
Benarkah semua kisah yang kau tuturkan padaku disela kau sedang menyetrika tumpukkan baju semua anggota keluarga kita.
  
Sementara kini ku lihat agamaku nyatanya di jadi dasar untuk mencaci orang lain. Tokoh agamaku malah mengumbar umpat dalam mauizdohnya.
Bu, kini ku lihat. banyak orang atas dasar agama malah saling benci, saling hujat, bahkan saling bunuh bu. Aku tak paham. Apakah kau belum tuntaskan semua tuturmu agar ku jadi ngerti?

Beri aku kisah baru bu.
Aku gusar akan banyak manusia yang tidak manusiawi.
2016

Penerus Risalah Kenabian

Bukan, bukan itu maksudku.
Bukan tentang seorang yang mendapat nubuwwah baru. Bukan.
Bukan tentang seorang yang nyatakan diturunkan wahyu. Bukan.
Bukan pula akan seorang manusia pilihan. Sungguhpun bukan.

Aku hanya ingin menyampaikan isi pesan wahyu. Yang nyata terpelintir oleh pemahaman semu. Naif!

Orang berteriak, aku tak perlu.

Meskipun riak-riak itu terpantul oleh kudapan belenggu. Aku tak mati.
Aku justru rindu akan pesan damai isi wahyu.
Berbisik akan keberpihakkan dan pembebasan. Tentang pembelaan dan kesetaraan.
Hentakan moralku beradu-pandang akan sesal tak dinyana
2016




Share:

Menuju Amar Makruf-Nahi Munkar yang Berpihak

“Dan Hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. “ (Qur’an surat Ali Imron : 104).
Agama Islam merupakan agama pamungkas dalam sejarah peradaban manusia. Nabi Muhammad SAW sebagai penyampai wahyu terakhir, merupakan puncak dari diutusnya seorang utusan Allah SWT di muka bumi ini. Sehingga tidak ada lagi setelah beliau SAW, nabi dan rosul selanjutnya.

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita menjadikan agama yang kita yakini menjadi suatu yang tetap. Tentunya Islam harus di bela dan di perjuangkan. Kebanggaan terhadap Islam, menjadi suatu keharusan bagi kita umat Islam.

Berangkat dari terjemahan satu ayat Al-qur’an diatas, kiranya kita perlu tahu dan paham bahwa, urgensi kita sebagai muslim adalah agar kiranya kita menetapkan pada diri kita masing-masing sebagai orang-orang yang senantiasa belaku amar makruf-nahi munkar. Kita haruslah sadar bahwa di tangan kitalah syi’ar dakwah seharusnya kita emban.

Mengacu juga pada satu sabda Rasulullah SAW ; “Barang siapa yang melihat diantara kalian kemungkaran, maka gantilah. Dengan tangannya. Jika tidak bisa, maka dengan lisannya. Jika tidak bisa, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.”(HR. Muslim), maka sudah se-yogyanya kita menjadi seseorang yang senantiasa berlaku seperti ayat dan hadits diatas.

Namun, yang ingin penulis garis bawahi adalah, bagaimana seharusnya kita melakukan langkah-langkah dalam melakukan amar makruf-nahi munkar tadi. Bagaimana, ketika apa-apa yang kita lakukan merupakan menjadi suatu yang maslahat bagi orang-orang sekitar kita, bahkan orang-orang yang bukan menjadi bagian dari kita.
Dalam pergerakkannya, apa yang dikatakan sebagai dakwah amar makruf-nahi munkar seharusnya mempunyai suatu keberpihakan. Dalam pandangan kritis, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang bersifat netral. Semua yang ada tentu mempunyai alur, tujuan, kepentingan, dan tentunya, keberpihakkan.

Untuk itu, perlunya keberpihakkan itu di bangun oleh kita dalam melakukan amar makruf -nahi munkar tadi. Keberpihakkan jika mengacu kepada agama Islam sendiri adalah keberpihakkan kepada orang-orang yang tertindas. Nabi muhammad pun melakukannya demikian. Bagaimana perjuangan beliau dalam membela kesetaraan hak manusia yang kala itu marak terjadinya sistem kelas dan perbudakan di tengah-tengah kota mekkah.

Orang-orang yang tertindas, adalah orang-orang yang termarjinalkan oleh lingkaran kekuasaan. Dimana, mereka sendiri tidak mampu untuk melawan untuk bangkit lantaran tak memiliki kekuatan secara moril maupun materil. Oleh karena itu, dakwah amar makruf-nahi munkar yang seharusnya kita arahkan sebelum lebih jauh pada penegakkan agama secara aqidah dan syariat, adalah pembelaan kita terhadap mereka yang tertindas.

Karena, apa yang dikatakan dakwah amar makruf-nahi mungkar ini lebih bersifat makro, yakni dilakukan secara menyeluruh tanpa memandang pada elemen lapisan masyarakat tertentu. Hal yang perlu di kedepankan adalah bagaimana agama yang kita yakini dan kitabanggakan ini, kita jadikan rahmat bagi muka bumi ini.

Rahmat bisa juga di katakan sebagai anugerah. Kalau kita bicara anugerah, tentunya hal itu harus mengandung sesuatu yang bisa membuat semua orang bahagia. Kehadiran agama Islam di tengah-tengah masyarakat seharusnya bisa menjadi teladan bagi masyarakat itu sendiri. Tidak malah menjadi hal yang meresahkan seperti yang telah dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku melakukan amar makruf-nahi munkar.

Maka, keberpihakkan kepada mereka yang tertindas lantas akan menjadikan kita, terlebih agama kita menjadi teladan ditengah-masyarakat. Wallahu a’lam.

*Tulisan ini pernah dimuat di www.lpmrhetor.com

Share: