ANDAI SAJA AKU KAYA
Andai saja aku kaya
Aku tak perlu pusing biaya
Langkahku tak mungkin merana
Oleh akibat nestapa raya
O, Aku bingung
Bukankah tugasku hanya belajar?
Kembangkan akal, Skill,dan nalar
Tapi kini aku diburu lapar menjalar
Andai aku kaya
Kau tak perlu pusing dapat cahaya.
2017
AKU dan ALAM
Menghirup aroma kopi, pandangi alam
sruput pelan kopi,
amati keadaan
alam balik memandang bahkan melotot
Aku yang terkagum mendadak merinding
Kakiku tergores batang serabut. Jatuh
Tanganku terkoyak akar.
Aku tarik nafas dalam
coba baca pikiran alam
Ia tak lagi mau memandangku
Berpaling tak lagi jadi pelindungku
Aku meracau tak sadar-nanar
Keadaankah yang buat alam begini?
Kupikir keadaan biasa saja
Tapi alam seperti ingin kasih sesuatu
Aku saja yang tak ngerti. Bodoh.
Tak bisa baca alam
Kerna gagal amati keadaan
2017, Yogyakarta
Di tengah Aksi
Aku hadir ditengah kerumunan
Bingung,
bego dimana kawan dimana lawan
Kerumunan tak sadar apa yg diperjuangkan
Kerumunan tak sadar apa yg diperjuangkan
Mengais celah dengan sulut
kegaduhan.
Dia bilang padaku, mengapa ikut
kerumunan? Aku jawab ; sukar merangkai alasan.
Selesai berkerumun, kerumunan malah asyik selfie berpasang-pasangan
Selesai berkerumun, kerumunan malah asyik selfie berpasang-pasangan
Apa yg dilihat orang melihat
kerumunan teriak keras lalu aksi meratap nanar
Ah
Ah
2016
Curhatku
Bu
Dahulu ibu mengajariku tuk bisa maafkan orang bersalah.
Sekalipun dendam diri merah.
Ibu tetap putihkan dengan senyum merekah.
Dahulu ibu beri tau aku kisah nabi dan rasul yang tak pernah mencaci.
Sekalipun mereka diteror dan di benci
Aku ingat betul ketika ibu mengingatkanku satu hal.
Pintar-pintar jaga diri nak, santuni setiap orang apapun latar belakangnya, seberapapun mereka mencaci-mu.
Benarkah itu bu?
Benarkah semua kisah yang kau tuturkan padaku disela kau sedang menyetrika tumpukkan baju semua anggota keluarga kita.
Sementara kini ku lihat agamaku nyatanya di jadi dasar untuk mencaci orang lain. Tokoh agamaku malah mengumbar umpat dalam mauizdohnya.
Bu, kini ku lihat. banyak orang atas dasar agama malah saling benci, saling hujat, bahkan saling bunuh bu. Aku tak paham. Apakah kau belum tuntaskan semua tuturmu agar ku jadi ngerti?
Beri aku kisah baru bu.
Aku gusar akan banyak manusia yang tidak manusiawi.
Dahulu ibu mengajariku tuk bisa maafkan orang bersalah.
Sekalipun dendam diri merah.
Ibu tetap putihkan dengan senyum merekah.
Dahulu ibu beri tau aku kisah nabi dan rasul yang tak pernah mencaci.
Sekalipun mereka diteror dan di benci
Aku ingat betul ketika ibu mengingatkanku satu hal.
Pintar-pintar jaga diri nak, santuni setiap orang apapun latar belakangnya, seberapapun mereka mencaci-mu.
Benarkah itu bu?
Benarkah semua kisah yang kau tuturkan padaku disela kau sedang menyetrika tumpukkan baju semua anggota keluarga kita.
Sementara kini ku lihat agamaku nyatanya di jadi dasar untuk mencaci orang lain. Tokoh agamaku malah mengumbar umpat dalam mauizdohnya.
Bu, kini ku lihat. banyak orang atas dasar agama malah saling benci, saling hujat, bahkan saling bunuh bu. Aku tak paham. Apakah kau belum tuntaskan semua tuturmu agar ku jadi ngerti?
Beri aku kisah baru bu.
Aku gusar akan banyak manusia yang tidak manusiawi.
2016
Penerus Risalah
Kenabian
Bukan, bukan itu maksudku.
Bukan tentang seorang yang mendapat nubuwwah baru. Bukan.
Bukan tentang seorang yang nyatakan diturunkan wahyu. Bukan.
Bukan pula akan seorang manusia pilihan. Sungguhpun bukan.
Aku hanya ingin menyampaikan isi pesan wahyu. Yang nyata terpelintir oleh pemahaman semu. Naif!
Orang berteriak, aku tak perlu.
Meskipun riak-riak itu terpantul oleh kudapan belenggu. Aku tak mati.
Aku justru rindu akan pesan damai isi wahyu.
Berbisik akan keberpihakkan dan pembebasan. Tentang pembelaan dan kesetaraan.
Hentakan moralku beradu-pandang akan sesal tak dinyana
Bukan, bukan itu maksudku.
Bukan tentang seorang yang mendapat nubuwwah baru. Bukan.
Bukan tentang seorang yang nyatakan diturunkan wahyu. Bukan.
Bukan pula akan seorang manusia pilihan. Sungguhpun bukan.
Aku hanya ingin menyampaikan isi pesan wahyu. Yang nyata terpelintir oleh pemahaman semu. Naif!
Orang berteriak, aku tak perlu.
Meskipun riak-riak itu terpantul oleh kudapan belenggu. Aku tak mati.
Aku justru rindu akan pesan damai isi wahyu.
Berbisik akan keberpihakkan dan pembebasan. Tentang pembelaan dan kesetaraan.
Hentakan moralku beradu-pandang akan sesal tak dinyana
2016