“Dan
Hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka
itulah orang-orang yang beruntung. “ (Qur’an surat Ali Imron : 104).
Agama Islam merupakan agama pamungkas
dalam sejarah peradaban manusia. Nabi Muhammad SAW sebagai penyampai wahyu
terakhir, merupakan puncak dari diutusnya seorang utusan Allah SWT di muka bumi
ini. Sehingga tidak ada lagi setelah beliau SAW, nabi dan rosul selanjutnya.
Sebagai
seorang muslim, sudah seharusnya kita menjadikan agama yang kita yakini menjadi
suatu yang tetap. Tentunya Islam harus di bela dan di perjuangkan. Kebanggaan
terhadap Islam, menjadi suatu keharusan bagi kita umat Islam.
Berangkat
dari terjemahan satu ayat Al-qur’an diatas, kiranya kita perlu tahu dan paham
bahwa, urgensi kita sebagai muslim adalah agar kiranya kita menetapkan pada
diri kita masing-masing sebagai orang-orang yang senantiasa belaku amar makruf-nahi
munkar. Kita haruslah sadar bahwa di tangan kitalah syi’ar dakwah
seharusnya kita emban.
Mengacu
juga pada satu sabda Rasulullah SAW ; “Barang siapa yang melihat diantara
kalian kemungkaran, maka gantilah. Dengan tangannya. Jika tidak bisa, maka
dengan lisannya. Jika tidak bisa, maka dengan hatinya. Dan itulah
selemah-lemahnya iman.”(HR. Muslim), maka sudah se-yogyanya kita menjadi
seseorang yang senantiasa berlaku seperti ayat dan hadits diatas.
Namun,
yang ingin penulis garis bawahi adalah, bagaimana seharusnya kita melakukan
langkah-langkah dalam melakukan amar makruf-nahi
munkar tadi. Bagaimana, ketika apa-apa yang kita lakukan merupakan menjadi
suatu yang maslahat bagi orang-orang sekitar kita, bahkan orang-orang yang
bukan menjadi bagian dari kita.
Dalam
pergerakkannya, apa yang dikatakan sebagai dakwah amar makruf-nahi
munkar seharusnya mempunyai suatu keberpihakan. Dalam pandangan kritis,
segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang bersifat netral. Semua yang ada
tentu mempunyai alur, tujuan, kepentingan, dan tentunya, keberpihakkan.
Untuk
itu, perlunya keberpihakkan itu di bangun oleh kita dalam melakukan amar makruf -nahi
munkar tadi. Keberpihakkan jika mengacu kepada agama Islam sendiri adalah
keberpihakkan kepada orang-orang yang tertindas. Nabi muhammad pun melakukannya
demikian. Bagaimana perjuangan beliau dalam membela kesetaraan hak manusia yang
kala itu marak terjadinya sistem kelas dan perbudakan di tengah-tengah kota
mekkah.
Orang-orang
yang tertindas, adalah orang-orang yang termarjinalkan oleh lingkaran
kekuasaan. Dimana, mereka sendiri tidak mampu untuk melawan untuk bangkit
lantaran tak memiliki kekuatan secara moril maupun materil. Oleh karena itu,
dakwah amar
makruf-nahi munkar yang seharusnya kita arahkan sebelum lebih jauh pada
penegakkan agama secara aqidah dan syariat, adalah pembelaan kita terhadap
mereka yang tertindas.
Karena,
apa yang dikatakan dakwah amar makruf-nahi
mungkar ini lebih bersifat makro, yakni dilakukan secara menyeluruh tanpa
memandang pada elemen lapisan masyarakat tertentu. Hal yang perlu di kedepankan
adalah bagaimana agama yang kita yakini dan kitabanggakan ini, kita jadikan
rahmat bagi muka bumi ini.
Rahmat
bisa juga di katakan sebagai anugerah. Kalau kita bicara anugerah, tentunya hal
itu harus mengandung sesuatu yang bisa membuat semua orang bahagia. Kehadiran
agama Islam di tengah-tengah masyarakat seharusnya bisa menjadi teladan bagi
masyarakat itu sendiri. Tidak malah menjadi hal yang meresahkan seperti yang
telah dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku melakukan amar makruf-nahi
munkar.
Maka,
keberpihakkan kepada mereka yang tertindas lantas akan menjadikan kita,
terlebih agama kita menjadi teladan ditengah-masyarakat. Wallahu a’lam.
*Tulisan ini pernah dimuat di www.lpmrhetor.com