Musim
liburan semester ganjil telah tiba. Musimnya para mahasiswa UIN mulai
ancang-ancang membuat wacana liburan, mudik, atau mungkin juga sibuk perpanjang
kos-kosan. Khusus kami para maba (mahasiswa baru), liburan kali ini merupakan
liburan pertama sejak kami 6 bulan lalu di-plonco dan berhasil menyandang gelar
MAHASISWA.
Seperti
sudah menjadi tradisi setiap awal tahun, setelah merampungkan UAS di awal
Januari kemarin para mahasiswa seakan tergopoh-gopoh merancang schedule‘kegiatan’
mereka selama setengah bulan kedepan. Penulis yang juga merupakan seorang maba
pun merasa akan adanya suatu euphoriatersendiri
bagi kami, Mahasiswa Baru.
Ditengah
para mahasiswa tua yang sedang di-galaukan oleh persoalan skripsi, bimbingan,
ngulang kuliah dan tetek-bengeknya, kami mahasiswa baru malah sedang
asyik-asyiknya berwacana untuk travelling, explore jogja,
naik gunung, atau mudik ke kampung halaman. Pokoknya liburan semester ganjil
ini harus keren, puas, nggak krik-krik guna
menyongsong semester genap yang makin memusingkan.
Dalam
waktu dua minggu lebih ini, kami akan saling ber-selfie ria, chatting
gila-gilaan di grup WA jurusan, mengajak jalan sang gebetan, atau saling pamer
nilai IPK pertama kami satu sama lain. Bahagia bukan? Ya jelas, karena kami
belum di pusingkan oleh njlimetnya KKN,
skripsi, ataupun kerja organisasi. Kami hanya bisa manut kepada para senior
kami di organisasi yang kami pilih. Hanya bisa mengangguk ketika dosen kami
memberi tugas segunung dan mulai menggerutu di kos-kosan seorang diri.
Kemudian,
setelah masa liburan itu mulai habis, kami mulai galau tak tau arah. Saling
menanyakan tatacara soal pembayaran UKT, ngisi KRS dan placement-testdi
pusat Bahasa. Teman-teman kami yang ikut organisasi ekstra kampus, yang kemarin
sempat ikut-ikutan demo menentang masalah UKT pun mau tak mau harus membayar
kembali UKTnya, guna bisa melanjutkan protes dan demo mereka di gedung
Rektorat.
Adapun
teman kami yang kemarin di kelas hobi menantang dosennya untuk berdebat, senang
mencari-cari celah kelemahan argumen sang dosen yang pendidikannya sudah S2
itu, juga mau tak mau harus berebut sinyal wifi untuk ngisi KRS mereka. Setelah
susah payah melakukan pengisian, mereka harus susah payah menghubungi
dosen pembimbing mereka, sekedar meminta tandatangan di KRS mereka. Juga dengan
alasan yang sama, guna bisa melanjutkan masuk kelas, mengajak setiap dosen
untuk beradu argumen dan teori untuk menciptakan suasan kelas yang katanya
dialektis.
Pastinya,
kami tak lagi takut untuk menghadapi berbagai dinamika di kampus. Cukup rasanya
mengawali satu semester ini yang sarat akan peristiwa dan pengalaman di dalam
kampus. Kami sudah tidak takut untuk telat masuk kelas karena sudah tahu
caranya titip absen. Kami sudah tidak takut untuk menggarap tugas segunung
karena sudah tahu bagaimana rumus Ctrl-C + Ctrl-V yang sebegitu ‘sakti’nya.
Kami
tidak lagi takut untuk diajak nongkrong ngopi oleh para senior, karena
setidaknya kami sudah hafal jalan dan sudah akrab dengan ibu kos kami dan bisa
pulang lebih malam. Tempat-tempat nongkrong pun kami sampai hafal menu-menunya.
Jadi kami tidak takut untuk salah pilih menu macam koppasus yang pahit rasanya.
Harga – harga makanan di burjo per porsinya, harga nasi gudeg, jajanan
angkringan pun kami pun sudah hafal. Jadi kami tidak takut untuk malu lantaran
uang untuk bayar yang kurang.
Ya,
sekali lagi, untuk mengawali semester genap ini, kami tidak takut, hanya galau.
#MabaTidakTakut
*Tulisan
ini pernah dimuat di lpmrhetor.com