Selasa, 21 Maret 2017

Marah

Arrgghh… Tubuh ini lelah berfikir. Lelah sudah sekian lama banyak berwacana akan banyak hala yang nampaknya indah. Lelah setelah sehari-hari hanya dihabiskan oleh fantasi-fantasi yang kemudian menguap menjadi buih mimpi yang nyatanya begitu jauh ditangkap. Terlalu banyak merancang keadaan, padahal realitas tetap tak berubah. Lelah terus-terusan mengeluh dalam hati, bergumam seakan diri ini paling sempurna di dunia. Membayangkan dan menyiapkan diksi-diksi untuk dialog saat akan bertemu dengan A, dengan Z, dengan O,P,Q,R,S,T,U,V,W,X,Y,Z, uwoooh…

Semua itu dilakukan dengan menggebu-gebu. Bergemuruh didada seakan ingin meledeak. Banyak merancang rencana ini itu, tanpa tahu kapan akan di laksanakan. Kemudian berfikir membanding-banding kan realita diri dengan realita orang banyak. Selalu saja melihat kelangit. Jarang menunduk kebawah untuk kemudian belajar dari kesukaran. Ah naïf sekali.

Aku selalu menganggap orang lain terilusikan dan tak sadar. Tapi nyatanya diri ini sadar siapa yang sebenarnya terilusikan sejak dalam pikiran bahkan. Pikiran ini seperti sepenggal lirik opening song serial Doraemon “aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini, ingin itu, banyak sekalii”. Tetapi sikapmu selalu seperti nobita yang tak mau bisa berjalan sendiri dan hanya bergantung pada kantong ajaib yang semu adanya. Rancangan yang dipikirkan dalam lamunan saat buang air, ngopi, bahkan mimpimu saat tidur sangatlah sempurna. Tapi tidak pernah terpikirkan sekalipun bagaimana langkah realisasinya. Disebut apakah orang sepetimu ini? hah? 

Berambisi ingin menjadi penulis, tapi tidak pernah menyentuh papan ketik sedikitpun, buku yang dibeli hanya sebatas koleksi untuk pencitraan kepada orang banyak. Ya. Pencitraanmu sukses bung! Kau bisa mencitrakan orang disekitarmu kalau kau kutu buku, banyak berkicau dengan referensi ini dan itu, padahal apa yang sebenarnya yang kau pahami dari referensimu?! Nista!

Kau bilang mau jadi jurnalis, barang-barangmu saja masih teledor dijaga. Ingat tidak ketika kunci motormu tertinggal di warung dekat kampus tempo sore tadi? Dan flashdiskmu yang tertinggal sampai sekarang di tempat foto copy? Ah jangan membual keluar dan asyik  menghardik di dalam.

Contoh macam apalagi yang kemudian bisa menginspirasimu? Dari A sampai Z itu sudah jelas, dari sektor apa? Semuanya ada, dan kau kagum lalu diam ; fasif tak bergeming. Alangkah lebih mulianya mereka yang kau katakan tak ideologis tetapi melangkah taktis dan kongkrit. Tidak sepertimu yang terus berbelit-belit tak sadar-nanar. Kau sudah tau sebagian makna dari ayay-ayat yang kau hafal dahulu. Dan kau tak mau menjalankannya? Naif! Kau memang naïf pada dirimu sendiri.

Apalagi yang kau tunggu bung?

Yogyakarta, 25/1/17

Share: