Arrgghh… Tubuh ini lelah berfikir.
Lelah sudah sekian lama banyak berwacana akan banyak hala yang nampaknya indah.
Lelah setelah sehari-hari hanya dihabiskan oleh fantasi-fantasi yang kemudian
menguap menjadi buih mimpi yang nyatanya begitu jauh ditangkap. Terlalu banyak
merancang keadaan, padahal realitas tetap tak berubah. Lelah terus-terusan
mengeluh dalam hati, bergumam seakan diri ini paling sempurna di dunia.
Membayangkan dan menyiapkan diksi-diksi untuk dialog saat akan bertemu dengan
A, dengan Z, dengan O,P,Q,R,S,T,U,V,W,X,Y,Z, uwoooh…
Semua
itu dilakukan dengan menggebu-gebu. Bergemuruh didada seakan ingin meledeak.
Banyak merancang rencana ini itu, tanpa tahu kapan akan di laksanakan. Kemudian
berfikir membanding-banding kan realita diri dengan realita orang banyak.
Selalu saja melihat kelangit. Jarang menunduk kebawah untuk kemudian belajar dari
kesukaran. Ah naïf sekali.
Aku
selalu menganggap orang lain terilusikan dan tak sadar. Tapi nyatanya diri ini
sadar siapa yang sebenarnya terilusikan sejak dalam pikiran bahkan. Pikiran ini
seperti sepenggal lirik opening song serial Doraemon “aku ingin begini, aku
ingin begitu, ingin ini, ingin itu, banyak sekalii”. Tetapi sikapmu selalu
seperti nobita yang tak mau bisa berjalan sendiri dan hanya bergantung pada
kantong ajaib yang semu adanya. Rancangan yang dipikirkan dalam lamunan saat
buang air, ngopi, bahkan mimpimu saat tidur sangatlah sempurna. Tapi tidak
pernah terpikirkan sekalipun bagaimana langkah realisasinya. Disebut apakah
orang sepetimu ini? hah?
Berambisi
ingin menjadi penulis, tapi tidak pernah menyentuh papan ketik sedikitpun, buku
yang dibeli hanya sebatas koleksi untuk pencitraan kepada orang banyak. Ya.
Pencitraanmu sukses bung! Kau bisa mencitrakan orang disekitarmu kalau kau kutu
buku, banyak berkicau dengan referensi ini dan itu, padahal apa yang sebenarnya
yang kau pahami dari referensimu?! Nista!
Kau
bilang mau jadi jurnalis, barang-barangmu saja masih teledor dijaga. Ingat
tidak ketika kunci motormu tertinggal di warung dekat kampus tempo sore tadi?
Dan flashdiskmu yang tertinggal sampai sekarang di tempat foto copy? Ah jangan
membual keluar dan asyik menghardik di dalam.
Contoh
macam apalagi yang kemudian bisa menginspirasimu? Dari A sampai Z itu sudah
jelas, dari sektor apa? Semuanya ada, dan kau kagum lalu diam ; fasif tak
bergeming. Alangkah lebih mulianya mereka yang kau katakan tak ideologis tetapi
melangkah taktis dan kongkrit. Tidak sepertimu yang terus berbelit-belit tak
sadar-nanar. Kau sudah tau sebagian makna dari ayay-ayat yang kau hafal dahulu.
Dan kau tak mau menjalankannya? Naif! Kau memang naïf pada dirimu sendiri.
Apalagi
yang kau tunggu bung?
Yogyakarta,
25/1/17